Jumat, 14 Agustus 2015

Cerbung : Zahra





Aku, memulai dengan beberapa kata, mulut sedikit bergetar, kata yang menghubungkan hubungan kita menjadi Halal, kata yang memberikan kita hak untuk bersentuhan. kata itu kurangkai menjadi kalimat " Saya terima nikahnya, Siti Zahra, dengan mas kawin tersebut tunai" semua orang yang ada disekelilingku, mengucap serentak " Sah !" Hari yang tak pernah aku lupa, kamu orang yang dulu selalu berjarak 1 m dari tempatku beridiri memandangmu, kini bersanding, saling menatap dan menggenggam tangan mesra. tanganmu erat ditanganku, sesekali kamu berdiri menerima tamu, menariku juga untuk berdiri dan menyalami para tamu yang naik ke atas pelaminan kita. mata ini sedikiti tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat sekarang, betapa indahnya, bahkan tak pernah aku bayangkan sebelumnya.  " Bagaimana nanti" bisiku pelan ditelingamu, kamu hanya tersenyum dan sedikit mencubit pipiku. kemudian kamu membalas membisiku " Kita tau harus bagaimana " kamu terus tersenyum menatapku, membelai pipiku lembut, dan kembali memandangi para tamu, yang sedang sibuk berlalu lalang di Hidangan Pernikahan kita.

Semua sudah selesai, para tamu sudah pulang, kini tinggal kita berdua didalam kamar, entah apa ini bisa dikatakan kamar pengantin, karena tak ada hiasan sama sekali, hanya kamar. itu pun hanya ada kasur dilantai. gantungan baju baju mejadi pelengkap. " Mas? aku bahkan belum tau nama lengkapmu " Zahra tiba tiba mengucapkan itu, " lalu bagaimana kamu mau menikah denganku? " tanyaku balik, " nama bukanlah penghalang untuk menikah mas " aku terdiam " aku hanya ingin tahu nama lengkapmu saja" lanjut Zahra, " Orang tuamu atau Orang tuaku tidak memberitahu mu ?" Zahra tersenyum " Bagaimana mereka mau memberitahu ? sedangkan jarak pernikahan kita dengan proses Taaruf saja hanya 3 hari " Zahra terkekeh dan membisikan ditelingaku " sebutkan nama panjangmu mas, dan malam ini untukmu sampai subuh menjelang" Malam pertama, yang dibahas nama panjang, aku tersenyum, membelai rambut Zahra, dan membisikan "Aku mencintaimu" Zahra langsung menarik kupingku kuat, dan beranjak dari pelukanku, memalingkan wajahnya " begitu susahnya kah mas ? " suaranya agak sedikit terlihat seperti menangis. " Zahra, bukankah nama bukanlah penghalang untuk menikah?" Zahra menutup telinganya. aku tersenyum, menarik tangannya dan meletakannya di dadaku, " Nama panjangku Mahmud Zaelani Abdul Qohar " mata Zahra yang sedari tadi ditundukannya, ternyata mengeluarkan air matanya turun deras, "Nama yang indah mas" mata Zahra masih dengan kesedihannya, aku mencoba menyekanya, namun tangan Zahra mencegah tanganku, " Biarkan saja mas, aku bahagia " Zahra memelukku " kamu tahu mas, namamu itu mengingatkan tentang abangku, namamu persis sekali denganya. raut mukamu pun sama seperti dia, gaya bahasamu, dan semuanya " Zahra masih terus memeluku " Abang ?" tanyaku, pertanyaanku itu membuat Zahra melepaskan pelukannya, " Bukankah Zahra tidak punya Abang, Zahra anak satu satunya kan " Zahra meletakannya tangannya dipundakku, kedua tanganya " Itu Orang lain yang sudah ku anggap Abangku sendiri Mas" Zahra memelukku lagi, " dan kamu adalah orang yang sangat mirip denganya" lanjut Zahra " bagaimana kabarnya?" tanyaku " Zahra tak menjawabnya, tubuhnya terasa seperti lemas, Zahra lelap memeluku, tertidur. aku merebahkanya dan memberikan kecupan dikening, mukanya terlihat kelelahan setelah seharian diatas pelaminan. tubuhkupun kelelahan, malam pertama ini sangat indah, walau masih ada pertanyaan, siapa orang yang pernah ada dihati istriku itu.

" Abang, Abang Abang, jangan lari, Zahra kangen " Zahra mengigau, " Jangan lari, Zahra kangen " begitu seterusnya, aku mencoba membangunkan Zahra, namun aku menghentikannya ketika Zahra seperti sedang mengobrol dengan seseorang di mimpinya " Bagaimana kabarmu bang, Zahra kangen, kalo Zahra hitung kita sudah 19 tahun tidak bertemu " aku memperhatikannya, Zahra terdiam, mukanya seperti menyimak sesuatu yang penting " Bagaimana Abang bisa meninggalkan Zahra?" mataku tak terasa megeluarkan air mata, hati ini terasa seperti ada yang menusuk, walau Zahra mengatakan bahwa aku sangat mirip dengan seseorang yang dia panggil Abang, tapi .....


Bersambung

0 komentar:

Poskan Komentar