Rabu, 29 Juli 2015

Cerpen Teenlite : Karena Aku Sayang Kamu

Bagaimana kamu menjelaskan perasaanmu, saat datang sebuah rasa yang beda dari rasa yang ada,gundah, resah dan kadang salah tingkah, jika kalian tidak bisa menjelaskannya, tidak apa apa. Karena aku pun tidak bisa. Rasa itu sangat rumit, lebih rumit dari ilmu pasti matematika, dan algoritma yangdipegang para hacker dunia, bahkan lebih rumit dari menghitung butir beras satu persatu, aku puna satu cerita yang mungkin akan lumayan panjang untuk diceritakan, aku sudah menuliskannya dalam buku catatan harianku. Dibagi dalam 1 bulan dan diurai dengan 3 minggu dengan hari sabtu sebagai harinya. Namaku Nisa dan ini ceritaku

Minggu ke-1 hari sabtu

Satu dari beberapa air mancur buatan itu memancar keluar dengan beberapa air mancur yang lainya, mengoyangkan tarian indah nan menawan, matahari yang telah memancarkan cahayanya sempurna membuat air mancur itu tampak berkilau dari kejauhan, " Lihat, diatas awan ada apa?" tiba tiba kamu menarik tanganku, Membuatku mengalihkan pandanganku ikut menatap awan, " ada apa ?" aku semakin penasaran melihat tanganmu berkeliling menunjuk langit, padahal tidak ada apa apa, tanganmu masih berkeliling menunjuk langit, dan kemudian berhenti tiba tiba, tanganmu mengepal. Dan sebuah kalung berwarna silver berbandul bentuk hati, menggantung indah di bawah kepalan tanganmu. Kalung itu bergoyang ke kanan dan kekiri.
"Bukankah indah?" tanyamu, aku tersenyum menyambutnya. Kalung itu berbandul bentuk hati yang bisa dilepas, kamu memakaikannya dileherku satu, dan satu lagi kau simpan disaku celanamu. Katamu " aku juga sangat ingin memakainya, tapi ada baiknya aku simpan saja" aku protes tak setuju " kenapa?" " aku menunggu orang yang aku sayang untuk memakaikannya untukku" " apa kamu tidak merasakan kasih sayangku?" samar sekali aku mengatakanya, mungkin kamu mendengarnya. Atau mungkin tidak.

Minggu ke - 2 hari sabtu

Hari sabtu, hari yang aku tunggu - tunggu kedatangannya, khisusnya hari sabtu ini, sabtu ini adalah sabtu yang spesial, itu semua karena kamu mengajakku untuk makan malam, hanya berdua Kamu dan aku. Aku berharap malam ini, aku bisa menjadi orang yang menyayangimu. Pukul 17.30 kamu sudah datang menghampiriku dirumah, meminta ijin untuk membawaku, hanpir hampir aku tidak bisa keluar, tapi karena tutur katamu yang lembut, dan penghormatanmu yang hebat, ayah dan ibuku luluh. Dan memberikan kita waktu sampai jam 21.00. Pesan ibuku. " jangan ngapa - ngapain dan cepat pulang" senyummu itu menarik semua simpati orang tuaku, kamu adalah orang pertama yang mengajakku keluar dan diterima dengan hati yang lapang oleh kedua orang tuaku. Ingin rasanya aku mengucapkan kata-kata indah ini "aku ingin menjadi orang yang menyayangimu" sekarang , nanti dan selamanya.

Sepanjang perjalanan, tanganmu tak lepas menggenggam tanganku, sesekali kamu mengusapkan ibu jarimu lembut ketika berhenti di trafic light. "Apa ini cukup" tanyaku tiba tiba, "cukup apa?" cukup untuk membuatmu menyadari bahwa aku menyayangimu. Kata kata itu hanya ada dihatiku, tak mampu aku nyatakan, hanya dalam hati.
"Nisaa, kamu tau? Aku merindukan .... " " merindukan apa ?" aku memotong, tersenyum menatap matamu yang indah. " aku merindukan saat kita dulu disini" disini ? Apa kita pernah disini dulu? Aku menatap sekitar,  apa benar kita pernah disini. Tempat ini terasa asing sebenarnya, tak ada yang kukenali. " kamu mencari apa?  Nisaa?" pertanyaanmu itu membuatku kaget, entah aku tidak tahu apa yang aku cari, Mungkin hatimu.
Minggu ke 3 hari sabtu

Aku masih penasaran tentang tempat itu, katamu aku dan kamu pernah makan malam disana, dan minggu kemarin adalah kali kedua kita makan malam. sebuah pertanyaan besar yang menggangguku. Ahhh tapi aku tak mampu untuk menanyakannya, hari sabtu kemarin walau menyimpan banyak pertanyaan, sangat spesial untukku. Dan sabtu ini lebih spesial dari yang spesial. Kamu mengatakan " aku sudah menemukan orang yang menyayangiku" aku merinding, melonjak perasaanku tiba tiba. "Siapa siapa?" tanyaku tak sabar. " pakaikan kalung ini untukku? Tanganmu lembut menarik tanganku, tubuhku hanya berjarak satu cm dari tubuhmu. Nafasku memburu, jantungku berdetak sangat kencang. Tanganku pun gemetaran memakaikan kalung itu, hampir hampir jatuh ke tanah kalau saja tanganmu tak sigap menangkap kalung itu. Kedua tanganmu sempurna berada diatas pundakku, setelah kalung itu menggantung indah dilehermu. Tanganmu bergerak menarik bandul kalung yang kupakai dan menyatukanya dengan punyamu " lihat kita sempurna sekarang" kamu menunjukan bandul kalung yang sekarang mengaitkan kita. Tanganmu kembali berada diatas pundaku, memeluk ku.

" aku sayang kamu" suaramu berbisik ditelingaku. " kenapa?" tanyaku dan kamu menjawab " karena aku sayang kamu"


3 minggu penuh rasa :)

The end :)

0 komentar:

Posting Komentar