Rabu, 29 Juli 2015

Cerbung : Tak Berjudul Part 6

Ibu, terbangun mendengar rintihan suaraku.Panik ! langsung berlari mencari Dokter, dari dalam ruangan terdengar ibu berlari sambil berteriak " Dokter Dokter, anak saya, anak saya !" Ayah ikut terbangun, mendengar teriakan ibu itu, dan langsung menghampiriku, menarik tangan kananku, menciumnya. air matanya menetes deras, menjatuhi tanganku yang masih diciumnya, tak berucap apa apa. Ibu kemudian datang membawa dokter, dokter meminta Ayah dan Ibu keluar dari ruangan, Ibu dan Ayah hanya bisa melihatku dari balik pintu, Ibu menyandarkan kepalanya di pundak Ayah, menangis, ayah juga masih belum bisa menghentikan air matanya.


Dokter mengatakan ada kemajuan, namun yang di Khawatirkannya hanyalah apakah ketika aku tertidur, apa akan seperti dulu atau bisa bangun dengan cepat, percakapan itu terdengar dari dalam, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi denganku, ada apa denganku. ada apa dengan tidurku, dan kenapa aku seperti ini, pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku, Ayah masuk kedalam, ingin rasanya aku menanyakan ada apa denganku, tapi mulut tidak bisa berkata apa apa, hanya bisa mengeluarkan suara seperti orang bisu, Ayah mulai menangis lagi, kali ini dia menjatuhkan dirinya kelantai, bersujud. Mengucapkan syukur, " Terimakasih, Alhamdulillah " Ibu kemudian masuk kedalam, menarik ayah berdiri lagi, aku ingat, tanganku bisa digerakan, aku mengisyaratkan Ayah dan Ibu untuk mendekat, lalu meminta keduanya untuk mengeluarkan Pulpen dan Buku, agar aku bisa berkomunikasi dengan mereka, mulanya mereka tidak mengerti, aku berusaha mengeluarkan suaraku " u..k...uuuu ulllenn, ukuu ulennn " sambil tanganku bergerak gerak. dan akhirnya mereka mengerti, dan sibuk mencari di tasnya yang mereka bawa masing masing.

Aku menuliskan Beberapa pertanyaan,
" Aku kenapa ? "
" Berapa Lama Aku disini ? "
" Siapa Ikhman ? "
tiga dari pertanyaanku hanya dijawab dua, yang terakhir mereka malah menanyakan balik. "Ibu, juga kurang tau pasti sayang, kamu kenapa. Dokterpun belum tahu, Kamu sudah hampir 1 bulan disini, Ibu khawatir sekali dengan kondisi kamu" Saat ibu mengatakan bahwa aku sudah berada di Rumah sakit ini selama satu bulan, aku langsung menuliskan lagi dikertas selanjutnya " Satu Bulan ?" untuk memastikan bahwa ibu berkata benar, Ibu menganggukan kepalanya, menangis lagi, menghampiriku, menurunkan kecupan dikeningku. aku mulai menanyakan lagi dalam tulisanku tentang Ikhman, tapi mereka tetap mengatakan tidak tau, dan belum pernah mendengar siapa Ikhman itu.


Bersambung ..............


0 komentar:

Poskan Komentar