Rabu, 29 Juli 2015

Cerbung : Tak Berjudul part 2




Dan Terakhir, Suara yang sangat membuatku terkejut adalah Suara tangisan, suara itu berasal dari dalam masjid, suaranya lemah, cukup membuat seluruh tubuhku merinding, dingin menjalar dari ujung kaki ke ujung kepala, degub jantungpun mulai tak teratur, nafas naik turun, seakan menahan sesuatu yang berat, ku gerakan kepalaku pelan pelan, samar samar terlihat didalam masjid, ada seseorang. lampu masjid yang sudah dimatikan, membuat pandanganku tak jelas, dari suara tangisannya orang itu adalah laki - laki. setelah semua kembali normal, jantungpun berdegup normal kembali, aku memberanikan diri masuk kedalam, langkah pelan kakiku hampir tak bersuara. aku meraba, menempelkan diri ketembok, mencari saklar lampu. sekarang orang itu terlihat jelas, wajahnya pun terlihat setelah dia menengok kearahku, wajahnya asing, sepertinya bukan dari desa ini. aku tersenyum, mengucapkan salam dan menghampirinya. orang itu mengusap matanya, dan menundukan kepalanya. "Kamu kenapa ?" tanyaku memulai pembicaraan, tak ada jawaban, hanya desis tangiisnya lagi yang mulai mengeras, "Hey hey ko nangis lagi" aku mencoba menenangkan. aku melihat sekitarnya, tak ada barang barang yang merepotkan, tak ada tas, bahkan tak ada barang bawaan, "kamu dari mana, kamu bukan dari desa ini yah ?" tanyaku lagi, kali ini pertanyaanku itu dijawabnya dengan menggelengkan kepala, " terus kamu dari mana ?" kemudian keluar juga suara dari mulutnya " aku nggak tau " jawaban darinya itu membuatku semakin bingung, tidak bawa apa apa, mukanya juga tidak familiar didesa ini, dan lagi tidak tau dia berasal dari mana.

Game PC gratis
Pukul 00.30 Wib, aku memutuskan mengajaknya menginap dirumahku, dan membatalkan acara kabur dari rumah, jarak dari Masjid dan rumah yang lumayan, membuat kita berdua banyak membuka pembicaraan, satu dua kali dia yang memulai, kebanyakan aku yang memulai, entah ada angin apa, sepertinya aku mulai tebiasa berbincang dengan orang lain, kudapati namanya adalah " Ikhman" dia mengenalkan dirinya sendiri, disambut aku yang memberikan namaku padanya, sepanjang perjalanan kerumah, aku berhasil menguak cerita bagaimana dia bisa menangis sendirian di masjid. menurutnya ceritanya panjang sekali, dimulai dari dirinya yang menangis didalam kamar, karena pertengkaran kedua orang tuanya, dalam tangisannya itu dia berdoa, agar dipindahkan saja ke tempat lain yang lebih baik dan damai, lalu tiba tiba, ada beberapa cahaya berkelebatan di luar jedela kamarnya, ada tiga cahaya katanya, yang satu masuk kedalam kamarnya, yang duanya lagi menunggu diluar. cahaya yang didalam kamarnya itu, semakin terang dan terang, membuatnya menutup mata, dan saat dia membuka matanya dia sudah berada dimasjid.


Bersambung ...............

Ke Part Selanjutnya

0 komentar:

Poskan Komentar