Rabu, 29 Juli 2015

Cerbung : Speaker Yang Ku Rindukan



Bagaimana biasanya seorang penulis membuka sebuah cerita, apakah dengan "Disuatu tempat " atau "Saat itu " atau " kisah ini berawal dari" mungkin itu awal yang bagus, tapi aku tidak menggunakannya, aku lebih menggunakan langsung masuk kedalam Cerita, seperti Cerpen yang dibawah ini. Have A nice Read

" Allahhu Akbar Allahhu Akbar " suara adzan itu terdengar dari sebuah Mushola tepat disamping rumahku, hanya terdengar dari rumahku, karena jarak kesekian meternya lagi sudah tidak terdengar. kalian tau masalahnya dimana, beberapa dari Mushola didesa kami sudah tidak menggunakan Speaker atau penggeras suara lagi, karena ada larangan dari Wakil Prisedent.  kalau hanya sebuah larangan tak tertulis, mungkin kami suda melanggarnya, tapi karena larangan itu sudah tertulis jelas jelas, dan sudah ada papan di Mushola didesa kami tentang larangan penggunaan speaker, beberapa pengurus mushola yang merasa direndahkan dengan papan itu langsung melepasnya. namun berakhir tragis, para pasukan bentukan Wakil President itu yang dinamakan " Pasukan Pemantau Masjid " langsung memukul membabi buta para pengurus masjid dan kembali memasang papan itu. ngeri jika melihat para pasukan bejad itu. ditangannya membawa pentungan layaknya satpam komplek, tapi tidak pernah disarungkan, di acungkan terus ke arah warga didesaku.berjalan layaknya tentara, suara dari sepatu yang dipakai pasukan itu menakuti anak anak didesa kami, bersembunyi didalam rumah setiap harinya. pembentukan pasukan pematau itu hanya kurang dari 2 minggu saja, tapi sudah menyebar keseluruh indonesia. keseluruh masjid dan mushola, menjajah kebebasan beragama.

Dua minggu kemudian setelah pasukan itu datang kedesa kami


Lenguhan suara dari dalam mushola, mengumandangkan Adzan, suaranya Parau, bahkan hampir tak terdengar walau dari rumahku, ku perhatikan dari luar Mushola, yang mengumandangkan Adzan ternyata seorang tua yang badannya sudah sangat lemah, untuk posisi berdiripun menyandarkan diri ketembok, air mata ini tak kuasa menahan tangis, ketika segerombolan pasukan pemantau mushola itu datang dan meledek menghina dan mencaci maki orang tua yang sedang mengumandangkan adzan, aku tak bisa berbuat apa apa, karena aku hanya orang lemah, dan juga berkebutuhan khusus. Iya aku orang yang berkebutuhan Khusus, mulutku tak bisa berfungsi normal, kaki ku pun tak lenngkap, hanya sampai dengkul saja kakiku, dan ada telapak kaki, berjalan menggunakan tangan. Para pasukan gila ini, kemudian masuk kedalam Mushola dan menarik kakek itu keluar, "Hey kalo Adzan yang keras" salah satu dari pasukan itu meneriaki keras, namun kakek itu hanya diam saja, entah apa yang ada dipikiran para pasukan ini, mereka menarik kopyah yang dipakai kakek itu, melemparnya. dan juga semua yang dipakainya, hanya tersisa pakaian dalamnya saja, namun kakek itu tetap diam, hanya air mata yang menetes dari matanya, aku ingin sekali melempar sesuatu ke arah kepala pasukan itu andai saja ada barang yang berat disekitarku.

Tiga Minggu kemudian setelah pasukan itu datang kedesa kami

Pasukan suruhan orang gila itu semakin menjadi, sekarang tak hanya Speaker Mushola saja yang dilarang, sekarang Mushola yang ada dimasjid kami pun, dilarang menjalankan fungsinya, alasannya karena dianggap membentuk gerakan pemberontakan terhadap pasukan itu, iya benar, gerakan ini bukan gerakan pemberentokan tapi gerakan menyelamatkan umat islam dan Islam, sebelum diketahui oleh para pasukan pemantaun Masjid, gerakan ini mengadakan rapat dan kordinasi di Mushola dekat rumahku, setiap malam. hingga akhirnya para pasukan ini datang dan menyerbu musloha, ditembakannya granat asap dari luar, memecahkan kaca mushola dan membuat orang orang didalamnya keluar berhamburan.


Bersambung ..................... ( Ikuti Kelanjutannya setiap hari )


( Cerbung ini saya buat untuk menyadarkan kita, bagaimana nanti jadinya jika Jokowi dan Jusuf Kala menjadi pemimpin negeri ini ) 

Hubungi penulis di: 
Email : rissing.internet@gmail.com
 Facebook : Zae Jae Qohar

0 komentar:

Poskan Komentar